'Merasa Baik"
by on 06-02-2010 at 09:10 (148 Views)
‘merasa baik’adalah musuh terbesar manusia. Mengapa? Karena, ‘merasa baik’ membuat kita melihat yang lain tidak baik. Karena, ‘merasa baik’ menjauhkan kita dari sikap rendah hati. Karena, ‘merasa baik’ bisa mengotori niat tulus dengan rasa pamrih. Hasilnya, buah yang kita tuai akan digerogoti ulat-ulat kesombongan. Jika kita tidak jeli atau hati-hati saat memakannya, maka ulat-ulat kesombongan itu akan beranak pinak di dalam aliran darah dan jejalin urat syaraf kita, hingga yang fatal adalah ulat-ulat
kesombongan itu mengeram dalam otak dan hati kita; menjerumuskan kita pada kekufuran.
menjadi terbaik
bahwa ‘baik’ adalah musuh terbesar jika mengakibatkan saya (baca: kita) tidak bergerak karena sudah merasa puas diri, tidak mau berubah menuju ke arah yang lebih baik, lebih baik lagi, sampai mencapai tingkat keunggulan. Kita perlu menjadi yang terbaik, bahkan menjadi yang terunggul. Dengan demikian kita tidak hanya baik bagi diri sendiri, tetapi bisa menjadi kebaikan, menjadi berkat bagi banyak orang.




adalah musuh terbesar manusia. Mengapa? Karena, ‘merasa baik’ membuat kita melihat yang lain tidak baik. Karena, ‘merasa baik’ menjauhkan kita dari sikap rendah hati. Karena, ‘merasa baik’ bisa mengotori niat tulus dengan rasa pamrih. Hasilnya, buah yang kita tuai akan digerogoti ulat-ulat kesombongan. Jika kita tidak jeli atau hati-hati saat memakannya, maka ulat-ulat kesombongan itu akan beranak pinak di dalam aliran darah dan jejalin urat syaraf kita, hingga yang fatal adalah ulat-ulat
kesombongan itu mengeram dalam otak dan hati kita; menjerumuskan kita pada kekufuran.






