Saya agak tergelitik saat membaca tulisan Agus Noor berjudul Fiksi Mini (Jawa pos, 13 Desember 2009).Menurutnya, sering terjadi kerancuan perbedaan antara puisi dan fiksi mini. ia mencontohkan sebuah karya Joko Pinurbo berjudul Penjahat Berdasi.
Penjahat Berdasi
Ia mati dicekik dasinya sendiri
Menurut Joko, karyanya itu adalah puisi. tapi bagi Agus Noor, karya itu adalah fiksi. ia mengaku menemukan unsur alur/plot dalam tulisan 5 kata itu. Menurut Agus, fiksi mini sendiri terbatas hanya sejumlah 50 kata, namun intinya ia menceritakan sebuah kisah dengan seminim mungkin kata.
Ibaratnya, jika novel adalah pertandingan tinju 12 ronde, cerpen ibarat pertandingan tinju yang berakhir dengan KO atau TKO, sedangkan fiksi mini ibarat pukulan telak yang membuat lawan terjengkang pada kesempatan pertama. intinya, dalam fiksi mini setiap kata benar-benar sangat diperhitungkan, sehingga membentuk alur logika cerita yang benar.
Dalam tulisannya di jawa pos itu, Agus Noor mengutip karya fiksi mini penulis besar Ernest Hemingway. Hemingway mengklaim telah membuat sebuah novel hebat hanya dengan enam kata, For Sale: Baby Shoes, never worn. begitulah isi keseluruhan novel terbaik dunia itu.
Kembali pada puisi. selama ini kita mengenal puisi adalah karya sastra yang sangat mini. Namun fenomena fiksi mini ini yang mungkin masih jarang ditulis oleh penulis Indonesia, mementahkan kembali anggapan itu. Bahkan Novel pun bisa lebih mini dari puisi.
Sebenarnya telah lama hal ini- Puisi dan fiksi- menjadi perbincangan hangat di komunitas FLP jember. dalam beberapa kali kesempatan bedah karya, beberapa diantara kita sering bertanya, apa sih batasan fiksi atau cerpen dengan puisi? terkadang memang ada prosa atau cerpen yang puitik, tetapi juga ada puisi yang prosaik. Namun permasalahannya, bagaimana cara menentukan sebuah karya itu tergolong puisi atau fiksi? jika pertanyaan itu dilontarkan pada saya, saya akan menjawab, "tergantung penulisnya mau menganggap itu cerpen atau puisi". karena memang tidak ada aturan-aturan baku, paten, dan spesifik yang mengkategorikan sebuah karya itu fiksi atau puisi.sekat-sekat yang ditonjolkan dalam kedua jenis karya itu pun tak seperti dulu, misal puisi lama yang harus bersajak AB-AB dan lain sebagainya. hanya saja yang paling jelas, dalam fiksi harus ada alur, sedangkan dalam puisi tidak harus ada alur.
Baik, kita sudahi perdebatan ini. saya yakin semua sepakat, bahwa hal yang paling asasi adalah bukan membuat pendefinisian baru antara cerpen dan puisi, tapi bagaimana karya-karya yang lahir dari tangan-tanagn penulis lebih produktif dan menginspirasi.
Rafif, 13 Desember 2009




Reply With Quote


Bookmarks